Paradigma Beragama Inklusif
Posted by satubangsa on April 5, 2008
Agama seharusnya dapat menjadi pendorong bagi ummat manusia untuk selalu menegakkan perdamaian dan meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh ummat manusia di bumi ini. Sayangnya, dalam kehidupan yang sebenarnya, agama justru menjadi salah satu penyebab terjadinya kekerasan dan kehancuran ummat manusia. Kenyataan pahit yang menyangkut kehidupan ummat beragama ini dialami oleh berbagai macam pemeluk agama dan terjadi di seluruh belahan dunia.
Di Bosnia Herzegovina, ummat Islam dan Katolik saling membunuh. Di Afrika, tepatnya di Nigeria, sering terjadi kontak berbadarah antara ummat katolik dan Islam. Di Irlandia Utara, ummat Kristen dan Katolik terus saling bermusuhan hingga kini. Di Timur Tengah, meskipun kekerasan yang timbul di kawasan ini ditengarai bukan disebabkan oleh perbedaan agama, akan tetapi kelompok-kelompok yang bersitegang justru mewakili tiga golongan masyarakat yang berbeda agama seperti Islam, Yahudi, dan Kristen. Di wilayah Kashmir, ummat Hindu dan Islam hingga sekarang saling melakukan kekerasan .
Di Indonesia, kasus-kasus pertentangan antar agama juga kerap terjadi. Agama juga seringkali dapat menjadi pemicu timbulnya percikan-percikan api yang dapat menyebabkan konflik horisontal antar pemeluk agama. Sudarto (1999) menjelaskan bahwa beberapa konflik agama antara kaum Muslim dan Nasrani seperti yang terjadi di Maumere (1995), Surabaya, Situbondo dan Tasik Malaya (1996), Rengas Dengklok (1997), Jakarta, Solo dan Kupang (1998), Poso, Ambon (1999-2002) bukan saja telah banyak merenggut korban jiwa yang sangat besar, akan tetapi juga telah menghancurkan ratusan tempat ibadah baik gereja maupun masjid terbakar dan hancur .
Setelah adanya kenyataan pahit yang demikian ini maka sangat perlu untuk membangun upaya-upaya prefentif agar masalah pertentangan agama seperti ini tidak akan terulang lagi di masa yang akan datang. Mengintensifkan forum-forum dialog antar ummat beragama dan aliran kepercayaan (dialog antar iman), membangun pemahaman keagamaan yang lebih pluralis dan inklusif dan memberikan pendidikan tentang pluralisme dan toleransi beragama melalui sekolah adalah beberapa upaya prefentif yang dapat diterapkan. Berkaitan dengan hal ini maka penting bagi institusi pendidikan dalam masyarakat yang multikultur untuk mengajarkan perdamaian dan resolusi konflik seperti yang ada dalam pendidikan multikultural.
Untuk itu maka dalam pendidikan multikultural, seorang guru atau dosen tidak hanya dituntut untuk mampu secara profesional mengajarkan mata pelajaran yang diajarkannya akantetapi mereka juga diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai keberagamaan yang inklusif kepada para siswa. Pada akhirnya, dengan langkah-langkah seperti ini, output yang diharapkan dari sebuah proses belajar-mengajar nantinya adalah para lulusan sekolah atau universitas tidak hanya cakap sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuninya akan tetapi juga mereka mampu menerapkan nilai-nilai keberagamaan yang memahami dan menghargai keberadaan para pemeluk agama dan kepecayaan yang lain.